Thursday, June 15, 2017

Sinergi Kecerdasan

Pekerjaan-pekerjaan besar yang mempertemukan seorang pahlawan mukmin sejati dengan takdir kepahlawanannya, selalu melibatkan seluruh instrumen kepribadian sang pahlawan ketika is sedang melakoni pekerjaan tersebut. Pekerjaan-pekerjaan itu pastilah menyedot energi fisik, jiwa spiritual, dan pemikirannya.



Tidak ada pahlawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar dengan hanya mengandalkan satu sumber energi. Misalnya, dengan hanya mengandalkan energi jiwa tanpa bantuan energi lainnya. Jadi, seorang pahlawan bekerja dengan keterlibatan penuh seluruh instrumen kepribadiannya.

Yang terjadi pada diri para pahlawan adalah bahwa seluruh instrumen itu biasanya mempunyai kontribusi yang sama, atau hampir sama, dalam proses menyukseskan kerja-kerja kepahlawanannya. Seluruh instrumen kepribadian itu mempunyai peranan yang sama urgen dan signifikannya dalam kesuksesan para pahlawan.

Wednesday, June 14, 2017

Jenak-Jenak Kejujuran

Hari-hari menjelang kedatangan Rasulullah saw dari Tabuk sangat menegangkan. Setidaknya, bagi Ka'ab bin Malik. Jika saja ia berada dalam rombongan Rasulullah, tentu lain ceritanya. Seperti biasa, setiap pulang dari perjalanan, Rasul lebih dulu ke masjid. Ternyata, sekitar 80-an munafik telah menunggu di sana. Mereka memohon kepada Rasulullah agar beliau meminta ampunan kepada Allah karena mereka tidak ikut perang. Mereka juga berharap Rasul sendiri mau memaafkan. Permintaan itu dikabulkan Rasul.


Akan tetapi, tiba-tiba wajah beliau berubah merah. Seulas senyum sinis tersungging, ketika Ka'ab bin Malik menemuinya. "Mengapa kamu tidak ikut ke Tabuk ? Bukankah kamu telah membeli kendaraan untuk itu ?" tanya Rasulullah. Wajar Rasulullah bersikap seperti itu. Ka'ab termasuk jajaran para sahabat terhormat, punya track record yang baik sebagai penulis wahyu, dan relatif tanpa cacat nama baik. Tidak ikut ke Tabuk menjadi sesuatu yang tak logis untuk ukuran seorang kader yang ditarbiyah oleh Rasul.

Ka'ab terdiam. la sudah menduga pertanyaan itu muncul. Itulah detik-detik penuh konflik dalam batinnya. Hal ini karena ia bermuamalah dengan Allah SWT dan berhadapan dengan Rasul Allah Bukan karena ia tak mampu beralasan. la bisa melakukannya. Sebab, seperti katanya sendiri, ia diberi kemampuan berargumentasi yang baik. Dalam situasi seperti ini, biasanya lahir dorongan untuk berdusta. Demi mempertahankan "air muka", atau "kebesaran", atau "kehormatan", atau "wibawa", atau "nama baik."

Sensitifitas Kepahlawanan

Sementara pahlawan mukmin sejati mempunyai pendengaran jiwa yang sangat peka. la dapat menangkap semua panggilan kepahlawanan, dari mana pun datangnya panggilan itu dan sekecil apa pun suara panggilan itu. Panggilan kepahlawanan itu senantiasa menciptakan getaran dalam jiwanya, getaran yang senantiasa menggodanya untuk mengepakkan sayap cita memenuhi panggilan itu.
Suatu ketika, Rasulullah saw mengatakan kepada sahabat-sahabatnya; Suatu saat Konstantinopel pasti akan dibebaskan, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang membebaskannya dan sebaik-baik komandan adalah komandan yang memimpin pembebasan itu. Demi mendengar sabda sang Rasul, para sahabat beliau segera bergegas mempersiapkan diri. Akan tetapi, hanya Abu Ayyub Al-Anshari yang langsung mengambil kudanya, menerjang gurun sahara, menempuh jalan panjang menuju Konstantinopel, seorang diri. Kota itu sendiri baru dibebaskan Kaum Muslimin delapan ratus tahun kemudian oleh Pasukan Utsmaniyah di bawah pimpinan seorang pemuda berusia 23 tahun, Muhammad Al-Fatih Murad. Akan tetapi, Abu Ayyub Al-Anshari telah mencatat namanya sendiri pada sebuah ruang sejarah kepahlawanan yang terhormat sebagai syahid pertama di jalan pembebasan itu.



Apakah beliau sempat membunuh musuh-musuh Allah dalam perjalanan itu ? Tidak ! Namun, posisi terhormat sebagai syahid pertama di jalan pembebasan itu telah menjadi hak sejarah beliau. Jadi, apa yang tepatnya telah beliau lakukan untuk itu? Yang beliau lakukan untuk itu adalah: memenuhi panggilan kepahlawanan itu di awal suara panggilan itu, menyatakan rindu yang jujur pada kehormatan menjadi syahid di awal senandung nada kepahlawanan itu, mengepakkan sayap cita menuju jalan pembebasan begitu sang Rasul menyelesaikan sabdanya.

Thursday, October 6, 2016

Aib Kepahlawanan

Pernahkah anda melihat orang-orang yang Anda anggap hebat, berbakat potensial, tetapi kemudian tidak menjadi apa-apa ? Atau dengan kata lain, kehidupannya dan prestasi-prestasinya dalam hidup tidak menunjukkan bakat dan potensi yang sebenarnya ia miliki.



Di sekeliling kita banyak orang-orang seperti itu. Mungkin juga saya atau Anda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui bahwa mereka menyimpan kehebatan yang dahsyat, atau mungkin mereka merasakannya, tetapi tidak berminat memunculkannya, atau mungkin berminat, tetapi ia kalah dengan godaan untuk menjadi "orang biasa". Sebab, menjadi orang biasa membuat hidup lebih santai, relatif tanpa beban, tanpa sorotan, tanpa stres, tanpa depresi. Menjadi orang biasa adalah godaan bagi para pahlawan. Inilah yang membuat mata air kecemerlangan di dalam dirinya hanya keluar dan kemudian tergenang.

Dan di mana pun ada genangan air, di situ selalu ada kemungkinan pembusukan. Air itu tidak menggelombang, maka tidak ada debur kehebatan di dalam dirinya. Air itu tergenang teduh, dan dalam keteduhannya ia tersedot oleh cahaya matahari kehidupan, maka ia mengering dan habis. Atau ia terkotori oleh sampah yang terbuang dalam genangan itu, maka ia mengeruh dan kemudian membusuk.

Para pahlawan adalah sungai yang mengalir deras, atau air yang menggelombang dahsyat. Semua potensi di dalam dirinya keluar satu demi satu, semua kehebatan di dalam dirinya menggelora ke permukaan bagai gelombang, semua bakat di dalam dirinya bertiup kencang bagaikan badai. la menantang kehidupan, maka ia mengukir sejarah, sebab sejarah adalah catatan petualangan hidup. la mengejar dan menangkap takdirnya, maka ia mendapatkan mahkota kepahlawanan.