Jika kita hanya membaca biografi pahlawan, atau mendengar cerita
kepahlawanan dari seseorang yang belum pernah kita lihat, barangkali imajinasi yang
tersusun dalam benak kita tentang pahlawan itu akan berbeda dengan kenyataannya.
Itu berlaku untuk lukisan fisiknya, juga untuk lukisan emosionalnya.
Abul Hasan Ali Al-Hasani Al-Nadwi, yang tinggal di anak Benua India,
telah membaca tulisan-tulisan Sayyid Quthub, yang tinggal di Mesir.
Tulisan-tulisannya memuat gagasan-gagasan yang kuat, solid, atraktif, berani,
dan terasa sangat keras. Barangkali bukan merupakan suatu kesalahan, bila
dengan tanpa alasan kita membuat korelasi antara tulisan-tulisan itu dengan postur
tubuh Sayyid Quthub. Penulisnya, seperti juga tulisannya, pastilah seorang
laki-laki bertubuh kekar, tinggi, dan besar. Itulah kesan yang terbentuk dalam benak
Al-Nadwi. Akan tetapi, ketika ia berkunjung ke Mesir, ternyata ia menemukan
seorang laki-laki dengan perawakan yang kurus, ceking, dan jelas tidak kekar.
Begitu juga dengan potret emosi seorang pahlawan Kadang-kadang,
ketegaran dan keberanian para pahlawan membuat kita berpikir bahwa mereka sama
sekali tidak mempunyai sisi-sisi lain dalam dirinya, yang lebih mirip dengan
sisi-sisi kepribadian orang-orang biasa. Misalnya, kebutuhan akan kemanjaan.
Umar Bin Khattab mengajar sesuatu yang lain, ketika beliau mengatakan,
"Jadilah engkau seperti seorang bocah di depan istrimu." Laki-laki
dengan postur tubuh yang tinggi, besar, putih, dan botak itu, yang dikenal keras,
tegas, berani, dan tegar, ternyata senang bersikap manja di depan istrinya.
