Wednesday, July 19, 2017

Jebakan Massa

Para pahlawan mukmin sejati selalu mempunyai penglihatan mata hati yang tajam, yang senantiasa membantunya memantau dan mendeteksi setiap jebakan yang dapat menghancurkan kepahlawanannya, atau mengalihkan arah hidupnya dari jalan kepahlawanan.



Karya-karya besar, atau sukses-sukses besar yang menyejarahkan seorang pahlawan adalah gabungan karya-karya kecil, atau sukses-sukses kecil yang terakumulasi di sepanjang jalan hidup seorang pahlawan. Proses menyejarah, dengan demikian, menemukan kenunitan yang kompleks pada dimensi waktu, terutama ketika ia berhubungan dengan persoalan konsistensi, atau pada penilaian yang kita lakukan terhadap karya-karya kita sendiri.

Dalam kerangka itulah, seorang pahlawan mukmin sejati harus mempertajam penglihatan mata hatinya, agar setiap saat ia dapat mendeteksi setiap jebakan secara dini. Salah satu jebakan itu adalah tipuan massa. Jebakan massa tidak saja terletak pada sikap kagum yang berlebihan yang membuat seorang pahlawan berhenti berkarya karena terlalu cepat merasa puas. Jebakan itu juga tidak saja terletak pada sikap kritis mereka yang berlebihan yang membuat seorang pahlawan berhenti berkarya karena merasa tertolak atau tidak diterima. Namun, jebakan massa juga menyimpan godaan dalam cara kita menilai mereka, dan padagodaan-godaan mereka kepada kita untuk bertindak lebih jauh, namun tidak rasional.

Suatu saat Khalid bin Walid digoda oleh pengagumnya di Negeri Syam untuk memberontak melawan Pemerintahan Umar di Madinah. Itu untuk membalas dendam Khalid bin Walid setelah dipecat Umar dari jabatan sebagai panglima perang. Tentu saja, ajakan itu sangat menggoda, bukan saja karena secara psikologis Khalid memang terluka, tetapi juga karena secara de facto kemampuan untuk memberontak memang ada.

Kepahlawanan Kolektif

Ada satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika membaca biografi para pahlawan. Kita selalu membayangkan bahwa para pahlawan itu relative berbeda dengan orang-orang biasa. Bayangan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, biasanya anggapan itu menjadi salah ketika sebuah karya sejarah kemudian dinisbatkan secara latah kepada satu orang pahlawan, padahal sebenarnya pahlawan yang kita elu-elukan itu mungkin hanya memberikan sentuhan akhir.



Dalam pembacaan seperti ini, ada banyak peran dan pelaku sejarah yang terlupakan, atau mengalami semacam marginalisasi sejarah. Misalnya, ketika kita menempatkan Shalahuddin al-Ayyubi sebagai tokoh kunci, yang relatif bersifat tunggal, dalam menghadapi Pasukan Salib. Padahal, Pasukan Salib telah menguasai Al-Quds selama sekitar 90 tahun, dan sepanjang tahun-tahun itu ada banyak perlawanan di sana sini. Ada banyak gerakan dakwah dan penyadaran sosial, ada banyak tokoh yang turut mengkondisikan situasi kemenangan, yang kemudian diselesaikan secara gemilang oleh Sholahuddin Al-Ayyubi. Yang disebut terakhir ini bahkan sebenarnya berasal dari Pasukan Mahmud Nuruddin Zanki, yang menguasai wilayah Syam, sebelum kemudian pindah ke Mesir dan memulai segalanya dari sana. Jadi, kemenangan dalam Perang Salib adalah karya beberapa generasi, bukan karya Sholahuddin Al-Ayyubi sendiri.

Perang `Ain Jalut yang melegendakan Muzaffar Quthuz karena berhasil merontokkan sekaligus menghancurkan serangan Pasukan Tartar, juga didahului oleh prakondisi sosial politik, yang memungkinkan kemenangan itu diraih. Ada ulama seberani Izzuddin bin Abdissalam yang mengkondisikan masyarakat Syam sebelum kemudian bergabung dengan pasukan Islam di Mesir dalam menghadapi Tartar. Beliau memang memenangkan pertempuran itu. Itu bukan hanya karya pribadinya. Itu merupakan karya bersama beberapa generasi.

Monday, July 10, 2017

Sukses Kecil ke Sukses Besar

Tiga komandan pasukan dalam Perang Mu'tah itu berguguran sebagai syuhada, Zaid Bin Haritsah, Ja'far Bin Abi Thalib, dan Abdullah Bin Rawahah. Pasukan muslim yang berjumlah sekitar 3000 orang memang tampak tidak seimbang ketika harus berhadapan dengan 200.000 orang dari Pasukan Romawi yang dipimpin langsung oleh raja mereka, Heraclius.



Kelihatannya, Rasulullah saw sudah meramalkan kejadian itu. Maka, beliau berpesan kepada pasukan ini, apabila ketiga komandan mereka gugur, maka mereka harus memilih seorang komandan baru di antara mereka. Dan yang dipilih oleh kaum muslimin ketika itu adalah Khalid Bin Walid.

Akan tetapi, apakah yang kemudian dilakukan Khalid Bin Walid ? Beliau justru menarik mundur pasukannya ke Madinah. Penduduk Madinah tidak dapat memahami strategi ini. Maka, anak-anak mereka melempari Pasukan Khalid, karena menganggap mereka pengecut dan meninggalkan peperangan. Namun, Rasulullah saw justru memberi gelar kepada Khalid sebagai "Saefullah al-Maslul" (Pedang Allah yang Senantiasa Terhunus).

Apresiasi

Para pahlawan mukmin sejati menyimpan kelembutan di dalam hatinya: yang membuat nuraninya senantiasa bergetar setiap kali ia menyaksikan berbagai peristiwa kehidupan yang mengharu biru; yang membuat semangatnya menggelora setiap kali ia menghadapi tantangan dan panggilan kepahlawanan; yang membuat kesedihannya menyayat jiwa setiap kali ia menyaksikan kezaliman, kepapaan dan kenestapaan; yang membuat kerinduannya mendayu-dayu setiap kali ia diingatkan pada cita-citanya.

Kelembutan jiwa membuat para pahlawan mukmin sejati senantiasa terpaut dalam pusaran kehidupan, terlibat di kedalaman batinnya, merasakan sentuhan alam, mendengar jeritan nurani kemanusiaan, dan memahami harapan-harapannya. Itulah sebabnya mereka selalu terjalin secara emosional dengan kehidupan yang mereka lalui. Mereka merasakan setiap detik dari perjalanan hidup mereka.



Intinya, kelembutan jiwa memberikan mereka kemampuan mengapresiasi kehidupan secara baik dan intens. Inilah, agaknya, rahasia yang menjelaskan sebuah fenomena yang unik, yaitu hubungan yang intens antara para pahlawan mukmin sejati dengan puisi dan sastra secara umum.