Showing posts with label Umar bin Khattab. Show all posts
Showing posts with label Umar bin Khattab. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Keinginan

Keinginan



Ada suatu hadits yang sangat populer yaitu hadits tentang niat. Tema utama hadits ini ialah untuk meluruskan niat kita saat kita melakukan ibadah. Hadits tersebut adalah:

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khathab rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al- Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An- Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

Saturday, July 22, 2017

Pusat Keunggulan

Para pahlawan mengajarkan sebuah kaidah kepada kita; seseorang hanya akan menjadi besar dan meledak sebagai pahlawan, jika ia bekerja secara optimal pada kompetensi intinya. Sebab, pekerjaan-pekerjaan yang kita tuntaskan yang kemudian membuat kita dicatat sebagai pahlawan, akan dijadikan mudah oleh Allah SWT karena la memang meyiapkan kita untuk pekerjaan itu.


Akan tetapi, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menemukan seluruh potensi yang terpendam dalam dirinya sekaligus. Seperti tambang yang tersembunyi di perut bumi, setiap kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengeksplorasi, menemukan, baru kemudian menggali dan mengeksploitasinya.

Sebelum diakhiri oleh kematian, setiap potensi yang kita temukan dalam diri kita tidak pernah bersifat final. Yang bisa kita lakukan adalah membuat model-model analog, misalnya peta, yang dapat menghampiri gambaran keseluruhan potensi diri kita. Karena itu, pencarian tidak boleh berhenti. Proses pemotretan dan pemetaan harus terus berlanjut. Kita hanya harus memastikan, bahwa semua potensi yang telah kita temukan langsung terpakai secara maksimal. Inilah konsep yang disebut sebagai pengenalan berkesinambungan.

Namun, di sini muncul sebuah pertanyaan,
"Bagaimana cara mengetahui, pada akhirnya bahwa inilah kompetensi inti kita, atau bahwa inilah pusat keunggulan kita?"

Pewarisan

Meskipun biasanya para pahlawan muncul dari keluarga pahlawan, tetapi selalu ada pengecualian. Kepahlawanan ternyata tidak selalu terwariskan kepada anak cucu. Sebab, ada kaidah lain, yaitu kaidah pergiliran, atau yang dalam AI-Qur'an disebut dengan istilah "mudawalah".


Allah SWT memberikan kemenangan dan kekalahan kepada setiap bangsa secara bergiliran. Demikian juga dalam sejarah setiap bangsa, masing-masing suku mendapat giliran. Dan dalam setiap suku masing-masing keluarga mendapatkan gilirannya. Kaidah mudawalah ini pula yang menjelaskan mengapa keluarga para pahlawan mengalami proses jatuh bangun dalam sejarah mereka.

Namun, sesungguhnya di sini juga tersimpan rahasia keadilan Allah SWT. Bukankah akan tampak tidak adil, jika misalnya Allah SWT telah menciptakan manusia dari berbagai keluarga, suku dan bangsa, tetapi kemudian memberikan kehormatan sebagai pahlawan hanya kepada beberapa keluarga, suku atau bangsa ?

Wednesday, July 19, 2017

Keluarga Pahlawan

Perenungan yang mendalam terhadap sejarah akan besar; kita dengan satu kenyataan besar bahwa sejarah sesungguhnya merupakan industri para pahlawan. Pada skala peradaban, kita menemukan bahwa setiap bangsa mempunyai gilirannya untuk merebut piala kepahlawanan. Di dalam komunitas besar sebuah bangsa, kita juga menemukan bahwa suku-suku tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan. Dan dalam komunitas suku-suku itu, kita menemukan bahwa keluarga-keluarga atau klan-klan tertentu saling bergiliran merebut piala kepahlawanan itu.


Bangsa Arab, misalnya, pernah merebut piala peradaban. Akan tetapi, dari sekian banyak suku-suku Bangsa Arab, suku Quraisy adalah salah satu suku yang pernah merebut piala itu. Dan dari perut suku Quraisy, yaitu dari keluarga Bani Hasyim, darimana Rasulullah saw berasal, adalah salah satu klan yang pernah merebut piala itu.

Pada saat sebuah keluarga atau klan melahirkan pahlawan-pahlawan bagi suku atau bangsanya, maka biasanya dalam keluarga itu berkembang nilai-nilai kepahlawanan yang luhur, yang diserap secara natural oleh setiap anggota keluarga begitu ia mulai menghirup udara kehidupan. Kepahlawanan dalam klan para pahlawan biasanya terwariskan melalui faktor genetik, dan juga pewarisan atau sosialisasi nilai-nilai kepahlawanan itu. Apabila seorang pahlawan besar muncul dari sebuah keluarga, biasanya pahlawan itu secara genetis mengumpulkan semua kebaikan yang berserakan pada individu-individu yang ada dalam keluarganya.

Jebakan Massa

Para pahlawan mukmin sejati selalu mempunyai penglihatan mata hati yang tajam, yang senantiasa membantunya memantau dan mendeteksi setiap jebakan yang dapat menghancurkan kepahlawanannya, atau mengalihkan arah hidupnya dari jalan kepahlawanan.



Karya-karya besar, atau sukses-sukses besar yang menyejarahkan seorang pahlawan adalah gabungan karya-karya kecil, atau sukses-sukses kecil yang terakumulasi di sepanjang jalan hidup seorang pahlawan. Proses menyejarah, dengan demikian, menemukan kenunitan yang kompleks pada dimensi waktu, terutama ketika ia berhubungan dengan persoalan konsistensi, atau pada penilaian yang kita lakukan terhadap karya-karya kita sendiri.

Dalam kerangka itulah, seorang pahlawan mukmin sejati harus mempertajam penglihatan mata hatinya, agar setiap saat ia dapat mendeteksi setiap jebakan secara dini. Salah satu jebakan itu adalah tipuan massa. Jebakan massa tidak saja terletak pada sikap kagum yang berlebihan yang membuat seorang pahlawan berhenti berkarya karena terlalu cepat merasa puas. Jebakan itu juga tidak saja terletak pada sikap kritis mereka yang berlebihan yang membuat seorang pahlawan berhenti berkarya karena merasa tertolak atau tidak diterima. Namun, jebakan massa juga menyimpan godaan dalam cara kita menilai mereka, dan padagodaan-godaan mereka kepada kita untuk bertindak lebih jauh, namun tidak rasional.

Suatu saat Khalid bin Walid digoda oleh pengagumnya di Negeri Syam untuk memberontak melawan Pemerintahan Umar di Madinah. Itu untuk membalas dendam Khalid bin Walid setelah dipecat Umar dari jabatan sebagai panglima perang. Tentu saja, ajakan itu sangat menggoda, bukan saja karena secara psikologis Khalid memang terluka, tetapi juga karena secara de facto kemampuan untuk memberontak memang ada.

Monday, July 10, 2017

Apresiasi

Para pahlawan mukmin sejati menyimpan kelembutan di dalam hatinya: yang membuat nuraninya senantiasa bergetar setiap kali ia menyaksikan berbagai peristiwa kehidupan yang mengharu biru; yang membuat semangatnya menggelora setiap kali ia menghadapi tantangan dan panggilan kepahlawanan; yang membuat kesedihannya menyayat jiwa setiap kali ia menyaksikan kezaliman, kepapaan dan kenestapaan; yang membuat kerinduannya mendayu-dayu setiap kali ia diingatkan pada cita-citanya.

Kelembutan jiwa membuat para pahlawan mukmin sejati senantiasa terpaut dalam pusaran kehidupan, terlibat di kedalaman batinnya, merasakan sentuhan alam, mendengar jeritan nurani kemanusiaan, dan memahami harapan-harapannya. Itulah sebabnya mereka selalu terjalin secara emosional dengan kehidupan yang mereka lalui. Mereka merasakan setiap detik dari perjalanan hidup mereka.



Intinya, kelembutan jiwa memberikan mereka kemampuan mengapresiasi kehidupan secara baik dan intens. Inilah, agaknya, rahasia yang menjelaskan sebuah fenomena yang unik, yaitu hubungan yang intens antara para pahlawan mukmin sejati dengan puisi dan sastra secara umum.