Kemanjaan. Itu sifat yang natural yang banyak ditemukan dalam kehidupan
pribadi pahlawan mukmin sejati. Akan tetapi, itu berbeda dengan sifat
melankolik, semacam kelemahan emosional yang membuat seorang pahlawan terkalahkan
oleh dorongan-dorongan emosinya, seperti cinta dan benci, yang setiap saat dapat
mengalihkan arah hidupnya. Di sini, cinta itu tidak menjadi sumber energi jiwa,
tetapi berubah menjadi beban yang boleh jadi dapat mencabut karunia kepahlawanan
yang telah disiapkan untuknya.
Tampaknya inilah rahasia besar di balik peringatan Allah SWT dalam
Al-Quran, bahwa istri, anak-anak, orang tua, atau siapa saja yang kita cintai,
setiap saat dapat menjadi musuh bagi kita. Mungkin, bukan dalam bentuk permusuhan
langsung, tetapi bisa juga dalam bentuk cinta yang berlebihan, yang berkembang
sedemikian rupa menjadi ketergantungan jiwa.
Cinta seperti itu pasti tidak akan menjadi sumber energi dan kekuatan
jiwa. la akan menjadi sumber kecemasan dan ketakutan. Kecantikan sang istri
akan berubah menjadi ancaman yang membuat kita ngeri membayangkan perpisahan.
Tidak akan pernah ada karya besar yang lahir dari jiwa yang tergantung pada
emosi-emosinya sendiri, yang takluk pada perasaanperasaannya sendiri, walaupun
itu bernama cinta.