Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Saturday, April 4, 2020

Mekanisme Otomatis

Mekanisme Otomatis





Adalah Maxwell Maltz, M.D.,F.I.C.S. dalam bukunya yang berjudul Psycho- Cybernetics yang telah terjual lebih dari 100 juta buku, menjelaskan suatu konsep yang disebut mekanisme otomatis yang tediri dari dua bagian yaitu Mekanisme Sukses Otomatis dan Mekanisme Gagal Otomatis. Hanya salah satu dari mekanisme ini akan bekerja pada diri kita. Sehingga saya yakin Anda akan bertanya, mekanisme mana yang bekerja pada diri Anda?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda perlu memeriksa pikiran Anda, jika pikiran Anda positif maka Mekanisme Sukses Otomatis yang bekerja pada diri Anda, sebaliknya jika pikiran negatif maka Mekanisme Gagal Otomatis yang bekerja pada diri Anda. Anda tidak perlu cemas, Anda bisa menentukan apakah yang bekerja pada diri Anda mekanisme gagal atau sukses, karena Anda bisa memilih dengan sadar mekanisme mana yang akan bekerja.

Kuncinya adalah kesadaran, jika Anda tidak menyadarinya, maka bisa jadi Anda selama ini memicu mekanisme gagal otomatis yang bekerja pada diri Anda. 

Saya menganalogikan bahwa dari diri kita ada yang disebut panglima, komandan, dan prajurit. Prajurit hanya akan bekerja sesuai dengan perintah komandan, prajurit yang baik akan mendengarkan dan mematuhi semua yang diperintahkan oleh komandan. Jika komandan mengatakan bertempur, maka tanpa pertanyaan, prajurit akan melakukan, sebaliknya jika komandan mengatakan mundur maka prajurit pun akan mundur. Sementara komandan memberikan perintah kepada prajurit atas arahan atau perintah dari sang panglima.

Friday, April 3, 2020

Sikap Positif

Sikap Positif




Pikiran positif, yang salah satunya memiliki visi hidup yang jelas baik dunia maupun akhirat insya Allah akan membawa kita kepada keberhasilan. Pikiran positif lainnya ialah selalu berkata 'saya bisa' dan 'saya akan'. Meskipun secara islami akan lebih baik jika di tambah dengan kata insya Allah. Kata-kata 'saya akan' dan 'saya bisa' adalah refleksi dari pikiran positif yang tidak menyerah pada keadaan, apapun keadaan yang dilaluinya.

Dr Edward Banfield, seorang ahli sosiologi dari Universitas Harvard menulis buku yang berjudul The Unheavenly City. Dia menggambarkan satu faktor penting seseorang dalam meraih kesuksesan. Dia menemukan bahwa faktor utama yang menyebabkan sesorang sukses adalah sikap tertentu yang ada dalam pikiran orang tersebut.

Sikap itu adalah perspektif jangka panjang. Ini berarti bahwa seseorang yang sukses dalam berencana dan bertindak selalu memiliki perspektif jangka panjang. Setiap keputusan yang dibuat selalu memperhatikan akibatnya bagi masa depan dalam jangka panjang. Tidak ada istilah bagi mereka yang berbunyi "bagaimana nanti saja", mereka lebih berpikir: "Nanti bagaimana?"

Thursday, April 2, 2020

Keinginan

Keinginan



Ada suatu hadits yang sangat populer yaitu hadits tentang niat. Tema utama hadits ini ialah untuk meluruskan niat kita saat kita melakukan ibadah. Hadits tersebut adalah:

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khathab rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al- Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An- Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

Wednesday, April 1, 2020

Keajaiban Pikiran

Keajaiban Pikiran




Kita hidup di alam, dimana ada hukum-hukum yang berlaku di sana. Misalnya, dalam dunia fisika kita mengenal hukum gravitasi. Kehidupan kita akan mudah jika kita selaras dengan hukum gravitasi, jika tidak, hidup kita akan menemui banyak kesulitan. Cobalah untuk melawan gravitasi, maka kita akan memerlukan energi yang ekstra. Sebaliknya jika kita mengikuti hukum gravitasi, banyak keuntungan yang akan kita dapat.

Hukum lain yang terjadi di alam ialah hukum sebab akibat. Allah memang sumber segala akibat, namun di alam ini, Allah juga menciptakan sebab-sebab tertentu yang akan menghasilkan akibat-akibat tertentu. Salah seorang ulama dunia mengatakan bahwa takdir Allah bukan hanya pada akibat, tetapi juga pada sebab, maksudnya untuk menyebabkan akibat tertentu, Allah menciptakan sebab-sebanya terlebih dahulu. Jadi sebab akibat adalah salah satu sunatullah yang ada dalam kehidupan kita.

Allah menciptakan pikiran kita sebagai sebab dari semua pencapaian manusia. Semua pencapaian manusia diawali dengan pikiran terlebih dahulu. Pencapaian manusia adalah salah satu dari penjabaran hukum sebab akibat, sebabnya adalah pikiran dan akibatnya adalah pencapaian. Coba apa yang dicapai manusia tanpa dipikirkan dulu oleh manusia? Tentu, akan ada banyak sebab- sebab yang menyusun suatu pencapaian, tetapi jika ditelusuri lagi semua sebab tersebut bermula dari pikiran.

Saturday, July 22, 2017

Nila

Didorong oleh keluguan dan ketulusan, masyarakat biasanya menghargai para pahlawannya dengan cara yang berlebihan. Itu merupakan godaan berat bagi para pahlawan, di mana mereka sering merasa memiliki "hak prerogatif' untuk menikmati semua kemurahan masyarakat untuk dirinya. Godaan itu yang telah menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan, dimana mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak terhormat, merendahkan martabat sendiri, bahkan seperti nila, ia merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri.


Kenyataan seperti ini paling banyak kita dapatkan dalam masyarakat paternalistik. Di sini orang-orang dengan mudah mendewakan para pahlawan. Dan para pahlawan dengan mudah mengidentifikasi diri sebagai sang dewa, dengan segala hak prerogatifnya. Termasuk melakukan berbagai tindakan tercela, namun tetap tampak terhormat di mata masyarakat.

Masyarakat paternalistik tidak memiliki kaidah yang pasti dalam mendewakan seseorang, sama seperti ia tidak mempunyai kaidah yang jelas dalam menistakan seseorang. Dalam masyarakat seperti ini, ketulusan bercampur baur dengan keluguan, keikhlasan bersahabat dengan kebodohan, dan semangat bertemu padu dengan kelatahan. Semua tindakannya cenderung ekstrem; cepat mendewakan, cepat pula mematikan. Dan semuanya dilakukan tanpa kaidah yang pasti dan jelas.

Pusat Keunggulan

Para pahlawan mengajarkan sebuah kaidah kepada kita; seseorang hanya akan menjadi besar dan meledak sebagai pahlawan, jika ia bekerja secara optimal pada kompetensi intinya. Sebab, pekerjaan-pekerjaan yang kita tuntaskan yang kemudian membuat kita dicatat sebagai pahlawan, akan dijadikan mudah oleh Allah SWT karena la memang meyiapkan kita untuk pekerjaan itu.


Akan tetapi, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menemukan seluruh potensi yang terpendam dalam dirinya sekaligus. Seperti tambang yang tersembunyi di perut bumi, setiap kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengeksplorasi, menemukan, baru kemudian menggali dan mengeksploitasinya.

Sebelum diakhiri oleh kematian, setiap potensi yang kita temukan dalam diri kita tidak pernah bersifat final. Yang bisa kita lakukan adalah membuat model-model analog, misalnya peta, yang dapat menghampiri gambaran keseluruhan potensi diri kita. Karena itu, pencarian tidak boleh berhenti. Proses pemotretan dan pemetaan harus terus berlanjut. Kita hanya harus memastikan, bahwa semua potensi yang telah kita temukan langsung terpakai secara maksimal. Inilah konsep yang disebut sebagai pengenalan berkesinambungan.

Namun, di sini muncul sebuah pertanyaan,
"Bagaimana cara mengetahui, pada akhirnya bahwa inilah kompetensi inti kita, atau bahwa inilah pusat keunggulan kita?"

Menanti Kematangan

Ada dua kutub yang bergerak diam-diam, merangkak perlahan untuk saling bertemu, pada suatu masa tertentu, di tempat tertentu, dalam suasana dan kondisi tertentu. Itulah ledakan kepahlawanan. Kutub pertama bergerak dari dalam diri, di mana seorang pahlawan mengalami proses pematangan internal. Kutub kedua bergerak dari luar, dimana situasi dan kondisi lingkungan mengalami proses pematangan eksternal. Ledakan kepahlawanan terjadi ketika kedua kutub itu mencapai kematangannya.


Menanti saat-saat kematangan seorang pahlawan sama seperti menanti kematangan buah di pohon. Jika Anda memetiknya sebelum waktunya, buah itu tidak akan terlalu lezat. Namun, jika anda memetiknya tepat pada waktu kematangannya, maka anda akan merasakan kelezatan yang tiada tara.

Sultan Murad telah mengangkat puteranya, Muhammad, yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih Murad, sebagai raja ketika ia masih berusia 16 tahun. Saat itu, kerajaan mengalami goncangan instabilitas yang hebat di dalam negeri. Pemuda yang berbakat itu ternyata belum saatnya memimpin.

Akhirnya, sang ayah mengambil alih kepemimpinan dari sang putera. Akan tetapi, proses pematangan ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa tahun lamanya. Di atas usia 20 tahun, Muhammad Al-Fatih kembali memimpin. Tepat ketika ia berusia 23 tahun, sang pahlawan telah mewujudkan mimpi 8 abad umat Islam; mimpi membebaskan Konstantinopel.

Pewarisan

Meskipun biasanya para pahlawan muncul dari keluarga pahlawan, tetapi selalu ada pengecualian. Kepahlawanan ternyata tidak selalu terwariskan kepada anak cucu. Sebab, ada kaidah lain, yaitu kaidah pergiliran, atau yang dalam AI-Qur'an disebut dengan istilah "mudawalah".


Allah SWT memberikan kemenangan dan kekalahan kepada setiap bangsa secara bergiliran. Demikian juga dalam sejarah setiap bangsa, masing-masing suku mendapat giliran. Dan dalam setiap suku masing-masing keluarga mendapatkan gilirannya. Kaidah mudawalah ini pula yang menjelaskan mengapa keluarga para pahlawan mengalami proses jatuh bangun dalam sejarah mereka.

Namun, sesungguhnya di sini juga tersimpan rahasia keadilan Allah SWT. Bukankah akan tampak tidak adil, jika misalnya Allah SWT telah menciptakan manusia dari berbagai keluarga, suku dan bangsa, tetapi kemudian memberikan kehormatan sebagai pahlawan hanya kepada beberapa keluarga, suku atau bangsa ?

Monday, July 10, 2017

Pahlawan Melankolik

Kemanjaan. Itu sifat yang natural yang banyak ditemukan dalam kehidupan pribadi pahlawan mukmin sejati. Akan tetapi, itu berbeda dengan sifat melankolik, semacam kelemahan emosional yang membuat seorang pahlawan terkalahkan oleh dorongan-dorongan emosinya, seperti cinta dan benci, yang setiap saat dapat mengalihkan arah hidupnya. Di sini, cinta itu tidak menjadi sumber energi jiwa, tetapi berubah menjadi beban yang boleh jadi dapat mencabut karunia kepahlawanan yang telah disiapkan untuknya.



Tampaknya inilah rahasia besar di balik peringatan Allah SWT dalam Al-Quran, bahwa istri, anak-anak, orang tua, atau siapa saja yang kita cintai, setiap saat dapat menjadi musuh bagi kita. Mungkin, bukan dalam bentuk permusuhan langsung, tetapi bisa juga dalam bentuk cinta yang berlebihan, yang berkembang sedemikian rupa menjadi ketergantungan jiwa.

Cinta seperti itu pasti tidak akan menjadi sumber energi dan kekuatan jiwa. la akan menjadi sumber kecemasan dan ketakutan. Kecantikan sang istri akan berubah menjadi ancaman yang membuat kita ngeri membayangkan perpisahan. Tidak akan pernah ada karya besar yang lahir dari jiwa yang tergantung pada emosi-emosinya sendiri, yang takluk pada perasaanperasaannya sendiri, walaupun itu bernama cinta.