Thursday, July 27, 2017

Keterbatasan

Pahlawan bukanlah manusia super. la tidak bisa menjadi segalanya, juga tidak dapat melakukan semuanya. Akan tetapi, inilah perkara mentalitas yang paling rumit yang dirasakan setiap pahlawan; menyadari dan menerima dengan lapang dada keterbatasan dirinya.

Mungkin itu salah satu sebabnya Rasulullah saw mengeluarkan sebuah sabda yang menyejukkan dada mereka, "Allah akan merahmati seseorang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya." Bukan hal yang mudah untuk menyadari dua hal yang antagonis; kehebatan dan keterbatasan, kebanggaan dan kerendahan hati.

Itulah yang dialami Jenderal Mc.Arthur. Lelaki gagah berani dan ahli strategi ini adalah pahlawan perang terbesar dalam sejarah Amerika. Dialah panglima perang Amerika yang memenangkan hampir semua pertempuran di kawasan pasifik, termasuk penaklukan Jepang, selama tahun-tahun panjang Perang Dunia Kedua. Walaupun sempat menderita beberapa kekalahan, khususnya pada beberapa pertempuran di semenanjung Korea saat menghadapi aliansi Korea Utara, China, dan Uni Soviet, tetapi semua itu tidak mengurangi kebesarannya.

Pahlawan Kejayaan

Jika kecemasan merupakan kekuatan utama yang menggerakkan para pahlawan kebangkitan, maka kekuatan apakah yang paling agresif menggerakkan para pahlawan di jaman kejayaan? Jawabannya adalah obsesi kesempurnaan. Penjelasannya seperti ini: Pada jaman kejayaan suatu peradaban, kondisi kehidupan masyarakat sudah relatif stabil; ada pemerintahan yang kuat, ada pertahanan dan keamanan yang stabil, ada kemakmuran yang merata secara relatif, ada tingkat kesehatan dan pendidikan yang baik, dan seterusnya. Masyarakat tidak lagi berpikir pada lingkaran kebutuhan pokok dan logistik dasarnya. Karena itu, ada ketenangan, dan dalam ketenangan itu muncul kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan intelektual dan spiritual.

Selain dilatari oleh sistem pemenuhan kebutuhan manusia secara bertahap, pengembangan intelektual juga merupakan kesinambungan yang niscaya dari mata rantai perkembangan sebuah peradaban. Lihatlah sejarah Islam misalnya. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat terjadi pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Pada abad pertama energi kaum muslimin tercurah untuk proses kebangkitan awal.

Ini juga yang terjadi di Eropa; masa kebangkitan peradaban dari masa keterpurukan di abad pertengahan terjadi setelah Perang Salib pada abad ketigabelas hingga abad ketujuhbelas. Setelah itu, peradaban Eropa mengalami masa kejayaan pada abad kedelapanbelas hingga abad duapuluh. Cerita abad duapuluhsatu mungkin akan sangat berbeda. Perkembangan ilmu pengetahuan paling pesat terjadi pada tiga abad terakhir ini.

Saturday, July 22, 2017

Pahlawan Kebangkitan

Hubungan saling menghidupkan dan saling mematikan antara pahlawan dan lingkungannya, antara tokoh dan peradabannya akan melahirkan kenyataan ini: dalam sejarah setiap peradaban, sebagian besar pahlawan muncul pada dua potongan masa, satu pada masa kebangkitan, dan satu lagi pada masa kejayaan. Setelah itu, datanglah masa keruntuhan: jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan, dan jaman peradaban yang mandul.

Apakah yang terjadi pada jaman kebangkitan ? Apa pula yang terjadi pada jaman kejayaan? Marilah terlebih dahulu kita memeriksa kenyataan sosial masyarakat manusia pada masa kebangkitannya.

Kekuatan utama yang menggerakkan masyarakat pada masa kebangkitan adalah kecemasan. Inilah mata air yang memberikan mereka energi untuk bergerak dan bergerak, melangkah tertatih-tatih sembari jatuh dan bangun, meraba dalam ketidakpastian. Namun, mereka bergerak. Mereka semua dirundung kecemasan; karena jarak yang terbentang jauh antara idealisme dan realitas, antara harapan dan kenyataan.

Mereka 'merasakan' jarak yang terbentang jauh itu, maka mereka menjadi cemas, dan kecemasan itulah yang menggerakakan mereka. Boleh jadi, sebuah bangsa terjajah dan menderita, tetapi mereka 'tidak merasakannya', maka mereka tidak cemas, maka mereka tidak bergerak.

Muara Peradaban

Jika para pahlawan adalah anak jaman mereka, maka tentulah mereka membutuhkan potongan-potongan zaman yang merangsang munculnya kepahlawanan mereka. Ada banyak orang baik yang lahir dan mati tanpa pernah menjadi pahlawan; karena ia lahir pada jaman yang lesu, dimana hampir semua perempuan seakan mandul atau enggan melahirkan pahlawan.

Begitulah awalnya kesaksian kita; ada banyak potongan zaman yang kosong dari para pahlawan. Jaman kevakuman, jaman tanpa pahlawan. Pada potongan jaman seperti itu mungkin ada orang yang berusaha menjadi pahlawan; tetapi usaha itu seperti sebuah teriakan di tengah gurun; gemuruh sejenak, lalu lenyap ditelan sunyi gurun.

Itulah yang terjadi pada saat sebuah peradaban sedang terjun bebas menuju kehancuran atau keruntuhannya. Ambillah contoh setting sejarah Islam kembali. Setelah berakhirnya kekuasaan Daulatul Muwahhidin dan Daulatul Murobithin di kawasan Afrika Utara pada penghujung milenium hijriah pertama, sulit sekali menemukan nama besar dalam sejarah Islam. Siapakah pahlawan Islam yang kita kenal dari generasi abad kesebelas dan keduabelas hijriyah ? Saat itu bertepatan dengan abad kedelapanbelas dan kesembilanbelas hijriyah. Saat itulah, penjajahan Bangsa Eropa atas dunia Islam terjadi.