Saturday, July 22, 2017

Nila

Didorong oleh keluguan dan ketulusan, masyarakat biasanya menghargai para pahlawannya dengan cara yang berlebihan. Itu merupakan godaan berat bagi para pahlawan, di mana mereka sering merasa memiliki "hak prerogatif' untuk menikmati semua kemurahan masyarakat untuk dirinya. Godaan itu yang telah menjerumuskan banyak pahlawan ke dalam lumpur kenistaan, dimana mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak terhormat, merendahkan martabat sendiri, bahkan seperti nila, ia merusak semua telaga kepahlawanan yang ia ciptakan sendiri.

Kenyataan seperti ini paling banyak kita dapatkan dalam masyarakat paternalistik. Di sini orang-orang dengan mudah mendewakan para pahlawan. Dan para pahlawan dengan mudah mengidentifikasi diri sebagai sang dewa, dengan segala hak prerogatifnya. Termasuk melakukan berbagai tindakan tercela, namun tetap tampak terhormat di mata masyarakat.

Masyarakat paternalistik tidak memiliki kaidah yang pasti dalam mendewakan seseorang, sama seperti ia tidak mempunyai kaidah yang jelas dalam menistakan seseorang. Dalam masyarakat seperti ini, ketulusan bercampur baur dengan keluguan, keikhlasan bersahabat dengan kebodohan, dan semangat bertemu padu dengan kelatahan. Semua tindakannya cenderung ekstrem; cepat mendewakan, cepat pula mematikan. Dan semuanya dilakukan tanpa kaidah yang pasti dan jelas.

Bayangan Sang "Icon"

Kadang-kadang, pada suatu masa yang sama, dua orang pahlawan muncul secara bersamaan, pada bidang yang sama, tetapi dengan kadar kepahlawanan yang relatif berbeda. Salah satu di antara keduanya biasanya mengalami prows "iconisasi ", atau "simbolisasi ", dimana ia dianggap sebagai simbol dari zaman dan genrenya.

Pada masyarakat yang sudah dewasa dan matang, proses iconisasi itu biasanya tidak berlanjut dengan proses sakralisasi. Umumnya mereka mengerti sang icon bukanlah segalanya. la hanyalah bagian dari sebuah karya bersama, sebuah kepahlawanan kolektif. Karena itu, setiap pahlawan tetap mendapatkan tempatnya yang layak dan terhormat, sebab masyarakat mereka cukup dewasa untuk menilai karya mereka secara objektif dan proporsional.

Namun, itu tidak terjadi dalam masyarakat yang belum dewasa dan matang, apalagi dalam masyarakat yang jumlah pahlawannya masih sangat sedikit. Simbol adalah bentuk penyederhanaan terhadap suatu makna yang abstrak. Kebutuhan akan simbol dalam masyarakat yang belum dewasa dan matang merupakan kebutuhan psiko-sosial yang sangat mendasar. Karena itu, kecenderungan untuk menyimbolkan suatu makna, misalnya perlawanan, pada sesosok tokoh, atau kecenderungan untuk meng "icon"kan sang tokoh, merupakan tradisi pada masyarakat tersebut.

Ambillah contoh masyarakat kita. Soekarno, misalnya, hingga kini selalu dilukiskan sebagai "icon" revolusi kemerdekaan Indonesia. Padahal sebenamya, ada begitu banyak pahlawan yang memberikan kontribusi yang boleh jadi lebih besar, atau sama besarnya, dengan kontribusi yang diberikan Soekarno. Namun, di tengah masyarakat yang belum dewasa dan matang, Soekarno memang mendapatkan berkah ketidakdewasaan itu, yaitu dalam bentuk sikap sakralisasi.

Pusat Keunggulan

Para pahlawan mengajarkan sebuah kaidah kepada kita; seseorang hanya akan menjadi besar dan meledak sebagai pahlawan, jika ia bekerja secara optimal pada kompetensi intinya. Sebab, pekerjaan-pekerjaan yang kita tuntaskan yang kemudian membuat kita dicatat sebagai pahlawan, akan dijadikan mudah oleh Allah SWT karena la memang meyiapkan kita untuk pekerjaan itu.

Akan tetapi, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menemukan seluruh potensi yang terpendam dalam dirinya sekaligus. Seperti tambang yang tersembunyi di perut bumi, setiap kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengeksplorasi, menemukan, baru kemudian menggali dan mengeksploitasinya.

Sebelum diakhiri oleh kematian, setiap potensi yang kita temukan dalam diri kita tidak pernah bersifat final. Yang bisa kita lakukan adalah membuat model-model analog, misalnya peta, yang dapat menghampiri gambaran keseluruhan potensi diri kita. Karena itu, pencarian tidak boleh berhenti. Proses pemotretan dan pemetaan harus terus berlanjut. Kita hanya harus memastikan, bahwa semua potensi yang telah kita temukan langsung terpakai secara maksimal. Inilah konsep yang disebut sebagai pengenalan berkesinambungan.

Namun, di sini muncul sebuah pertanyaan,
"Bagaimana cara mengetahui, pada akhirnya bahwa inilah kompetensi inti kita, atau bahwa inilah pusat keunggulan kita?"

Menanti Kematangan

Ada dua kutub yang bergerak diam-diam, merangkak perlahan untuk saling bertemu, pada suatu masa tertentu, di tempat tertentu, dalam suasana dan kondisi tertentu. Itulah ledakan kepahlawanan. Kutub pertama bergerak dari dalam diri, di mana seorang pahlawan mengalami proses pematangan internal. Kutub kedua bergerak dari luar, dimana situasi dan kondisi lingkungan mengalami proses pematangan eksternal. Ledakan kepahlawanan terjadi ketika kedua kutub itu mencapai kematangannya.

Menanti saat-saat kematangan seorang pahlawan sama seperti menanti kematangan buah di pohon. Jika Anda memetiknya sebelum waktunya, buah itu tidak akan terlalu lezat. Namun, jika anda memetiknya tepat pada waktu kematangannya, maka anda akan merasakan kelezatan yang tiada tara.

Sultan Murad telah mengangkat puteranya, Muhammad, yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih Murad, sebagai raja ketika ia masih berusia 16 tahun. Saat itu, kerajaan mengalami goncangan instabilitas yang hebat di dalam negeri. Pemuda yang berbakat itu ternyata belum saatnya memimpin.

Akhirnya, sang ayah mengambil alih kepemimpinan dari sang putera. Akan tetapi, proses pematangan ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa tahun lamanya. Di atas usia 20 tahun, Muhammad Al-Fatih kembali memimpin. Tepat ketika ia berusia 23 tahun, sang pahlawan telah mewujudkan mimpi 8 abad umat Islam; mimpi membebaskan Konstantinopel.